Manakah yang benar, AKKBB ataukah FPI?
Menyikapi
persoalan yang sedang hangat-hangatnya sekarang ini_yaitu penyerangan
terhadap Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan
(AKKBB) yang dilakukan oleh ormas Islam FPI (Front Pembela
Islam)_terkadang kita cenderung bingung.
Siapapun
tidak akan setuju dengan tindak kekerasan, Islam sangat melarangnya.
Sebagai contoh, ketika Nabi Muhammad SAW dicerca, dimaki habis-habisan
bahkan diancam dengan pembunuhan oleh orang-orang kafir Mekkah, apakah
nabi membalasnya dengan hal serupa?, tidak, malah sebaliknya, Nabi
berbuat baik kepada mereka, karena apa, karena Nabi tidak membenci
orang-orang tersebut, Nabi hanya tidak suka dengan perbuatan mereka,
oleh karena itu Nabi tetap berbuat baik kepada mereka. Dengan demikian
kekerasan yang dilakukan oleh FPI sangat jauh dari ajaran Islam yang
mulia. Dalam keadaan perangpun Islam mengajarkan untuk tidak menyerang
lebih dulu sebelum musuhlah yang lebih dulu memulai, hal ini bukan
berarti Islam lemah dan pengecut, tetapi justru untuk menunjukan betapa
mulyanya Islam itu.
Mengenai
kebebasan beragama dan berkeyakinan, di Indonesia hal ini memang
dilindungi Undang-undang, di dalam Islampun demikian, tidak ada paksaan
dalam agama (Islam). Tetapi lain kasusnya ketika seseorang berada dalam
Islam (menganut Islam), maka baginya tidak berlaku lagi istilah kebebasan berkeyakinan,
selain dari yang telah digariskan oleh Islam (Al Qur’an dan As Sunnah)
karena Islam merupakan suatu sistem yang sangat sempurna, tidak ada
yang lebih baik dari Islam.
Dengan demikian, ketika Ahmadiyah mengatakan mempunyai Nabi selain Muhammad SAW, ketika Lia EdenMusodek mengaku
dan mendeklarasikan dirinya adalah Nabi, maka semua itu tidak dapat
dibenarkan karena bertentangan dengan undang-undang Islam (Al Qur’an
dan As Sunnah). Tetapi mereka mengatakan bahwa mereka juga bersumber
dari Al Quran, nah di sinilah letak kesalahan awal mereka yang
menyebabkan kesalahan demi kesalahan dan seterusnya akan salah. menganggap dirinya sebagai tuhan, ketika
Mereka
yang telah menyimpang itu menafsirkan ayat-ayat Al Qur’an dengan
kehendak mereka, menurut versi mereka dengan berdalih kebebasan, selalu
kebebasan yang menjadi senjata mereka untuk membenarkan sebuah
penyimpangan. Ketika seorang advokat hukum terkemuka mengatakan
”perbedaan itu bagian dari kebeasan, tidak perlu dilarang yang
mengartikan Al Qur’an atau apapun semau kehendak mereka, itu hak azasi
manusia”. Memang di sinilah masalahnya, ketika kita hendak meluruskan suatu penyimpangan, kita akan dihadapkan dengan HAM.
HAM adalah alat orientalis barat yang salah satu orientasinya
adalah bahwa kebenaran ialah menurut tolok ukur manusia, oleh karena
itu ketika suatu kelompok membenarkan sesuatu yang salah, maka sesuatu
itu akan benar menurut kelompok itu, ketika suatu golongan menafsirkan
Al Quran dengan penafsiran yang menyimpang, maka hal itu akan dianggapp
benar oleh mereka. Hal ini merupakan orientasi barat yang mengatakan
bahwa kebenaran adalah manusia, dan itu artinya sesuatu yang salah
tetapi telah disepakati oleh kebanyakan orang, maka akan menjadi benar,
lesbian, dan homoseks akan dibenarkan karena banyak yang menganggap
benar hal tersebut, bahkan bisa jadi akan diundang-undangkan dalam
suatu negara.
Ketika
seseorang menulis suatu buku yang sangat bagus isinya, kemudian saya
baca buku itu, saya kacaukan isinya, saya tulis kembali dan saya
publikasikan menurut versi saya dengan mengatasnamakan penulis yang
sesungguhnya. Nah, apakah penulis buku itu rela bukunya saya acak-acak?
”oh iya silakan saja anda jadikan saja buku itu sesuai dengan yang anda
inginkan”, apakah begitu kedengarannya? Lucu sekali bukan.
Oleh karena itu, ketika segelintir orang, sekelompok manusia baik itu AKKBB,
Ahmadiyah atau siapapun dan dengan dalil apapun_mereka menodai Islam,
mengacak-acak Al Qur’an kemudian mengaku diri mereka Islam, maka umat
Islam akan tersakiti dengan hal ini, tidak akan rela, tidak ada artinya
tersakitinya fisik gerakan AKKBB bila dibandingkan dengan sakitnya umat
Islam sekarang ini. Mana kebebasan, mana HAM? Tidak ada, tidak ada
kebebasan yang menyakitkan, tidak ada HAM yang menyakiti, tidak ada
kebebasan dan HAM mengganggu sebuah hal yang prinsipil. Tetapi yang ada
adalah KAM, Kewajiban Azasi Manusia, kewajiban untuk mematuhi sesuatu
yang telah digariskan dengan begitu indah dan sempurna, kewaiban untuk
menjaganya (Al Qur’an dan As Sunnah) dari orang-orang yang selalu
menuntut HAM.
FPI
mewakili tersakitinya umat Islam, tetapi siapa sangka tindakannya malah
menambah sakit Umat Islam, sehingga wajar jika banyak yang membenci FPI.
Pada
akhirnya, marilah kita menjauhi orientasi barat yang menganggap
kebenaran adalah menurut manusia, yang telah terbukti banyak
menimbulkan perpecahan_untuk menuju kebenaran hakiki yang telah
digariskan oleh Allah dalam undang-undang yang sungguh sangat sempurna
yaitu Al Qur’an dan As Sunnah.
Wallahu A’lamu Bisshowab